Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)
Ada dua cara mensikapi hadis di atas. Yang pertama telah ditulis di tulisan sebelumnya. Lalu bagaimana sikap yang kedua? Kalau yang pertama penuh pesimistis, yang ke dua justru optimistis dan menganggap hadis ini sebagai tantangan:
“Ini adalah rukun Islam, saya harus jadi orang mampu. Agar saya bisa berhaji!”
“Rukhsah bagi yang tak mampu itu, biar untuk orang lain saja. Saya harus mampu!”
“Saya harus melengkapi keislaman saya dengan melaksanakan kelima-lima rukun Islam itu, termasuk berhaji!”
Lalu ditargetkan kapan bisa naik haji. Kalau untuk rumah seharga 50 juta berani mencicil 10-15 tahun, kenapa tidak mencoba mencicil ONH?
Ayo, ambil kalkulator. Masukkan angka 70 juta untuk ongkos haji suami-istri 10 tahun yang akan datang. Bagi dengan 10, maka itu berarti kita harus menabung 7 juta per tahun. Bagi lagi dengan 12. Itu berarti kita harus menyisihkan Rp. 584 ribu per bulan. Jika gaji kita 3 juta per bulan berarti dengan menyisihkan 20% setiap bulan, kita akan berkemampuan berhaji sepuluh tahun ke depan. Yaitu tahun 2021 nanti. Sambil berdoa semoga nilai rupiah tidak terus terdepresiasi terhadap dollar.
Kalau nilai ini dianggap terlalu besar, mari kita bikin urutan prioritas pengeluaran bulanan. Coret yang tidak perlu. Coret apa yang tidak akan membuat kita mati tanpanya. Coret apa yang justru membuat kita sakit jasmani dan rohani.
Apa yang masuk kriteria itu?
Banyak. Misalnya rokok yang merusak jasmani kita. Bioskop yang merusak kantong dan rohani kita. Jalan-jalan ke mall yang menyuburkan sifat konsumerisme dan hedonisme. Kurangi jajan, karena istri telah memasak di rumah. Kurangi jajan yang dilakukan hanya karena hobbi. Misalnya makan bakso atau duren . Jadikan makan karena butuh, bukan karena hobi apalagi nafsu. Kurangi memanjakan anak dengan jajanan tak bergizi dan menyuburkan penyakit. Yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak dan tak dikover asuransi.
Kalau istiqomah dan terus berdoa kepada Allah niscaya Allah akan menguatkan niat kita menuju berkemampuan itu.
Tulisan pada halaman-halaman selanjutnya di blog ini -yang sudah dibukukan- adalah catatan saya tentang keberhasilan saya dan istri menjadi berkemampuan melaksanakan ibadah haji. Tak ada niatan riya’ di dalamnya. Sebaliknya saya menyajikan ini adalah demi membuka wawasan pembaca sekalian, bahwa berhaji itu dari segi finansial ternyata mudah dan murah jika direncanakan dengan baik. Selamat membaca dan teriring doa semoga kita dimudahkan oleh Allah dalam mewujudkan cita-cita berhaji ke tanah suci.
Labbaikallahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbbaik
Innal hamda wanni’mata
Laka walmulk
Laa syariikalak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar