Haji adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Banyak anggapan bahwa Islam kita akan sempurna jika telah melaksanakan ibadah haji. Karena itu cita-cita berjahi adalah cita-cita yang wajar dan seharusnya ada dalam diri setiap muslim. Justru tidak wajar jika ada seorang muslim yang tak berkeinginan menunaikan ibadah haji.
Tapi karena besarnya biaya dan beratnya medan maka Rasulullah SAW mengatakan bahwa hanji hanya wajib bagi yang mampu. Yang tidak mampu tidak diwajibkan bersusah payah menunaikan ibadah ini. Ibadah yang menuntut persiapan maal (harta), ruh (keimanan) dan jasad (fisik, badan).
Dari Umar bin Khottob r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu (HR. Muslim).
Dari segi biaya, tidak ada yang memungkiri tingginya biaya menunaikan ibadah haji. Sekitar USD 2.500 - 3.000 harus disiapkan oleh setiap orang yang hendak berhaji. Jika berangkat suami-istri tinggal dikalikan dua saja. Belum termasuk biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, biaya bimbingan haji, transportasi dalam mengurus tetek bengek, kain ihrom, bekal pakaian, makanan dan sebagainya.
Yang paling besar dan dianggap sebagai parameter ketidakmampuan adalah ongkos naik haji atau biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang sekitar USD 2.500 - 3.000 itu. Atau sekitar 25 - 30 juta rupiah itu. (kurs 1 USD = Rp 10.000).
Maka tak heran jika kita sering mendengar dialog seperti ini:
"Enak ya, bisa naik haji."
"Pengen naik haji?"
"Tentu, dong."
"Kapan berangkat?"
"Yaaa... saya kan cuma buruh. Nanti kali, kalau dapat rejeki nomplok."
Ya, bagi seorang buruh yang sudah berkeluarga dengan kerja full lembur yang hanya mendapatkan 3-4 juta per bulan, pergi haji bagi pungguk merindukan bulan.Maka pergi haji ke tanah suci sering hanya menjadi sekedar niat suci saja.
Demikian juga yang saya alami. Niat dan kemauan sudah ada sejak 15 tahun yang lalu. Tapi rejeki nomplok tak kunjung datang. Bahkan dengan perhitungan saya seakan tak mungkin bisa pergi haji. Untuk nafkah keluarga yang terdiri dari satu istri dan empat anak, gaji jadi pas-pasan terus. Paling-paling tambahannya hanya THR yang habis untuk biaya mudik. Bonus tahunan tak kunjung ada. Ketika pindah kerja, bonus tahunan nilainya cuma sekali gaji. Sementara daftar pengeluaran sudah menunggu untuk direalisasikan. Warisan? Nggak ada. Makanya yang ada hanya pasrah. Menunggu panggilan Nabi Ibrahim. Paling banter minta do'a kepada tetangga yang berangkat haji, agar nama saya dipanggil agar bisa segera menyusul ke sana. [hj].