Jumat, 24 April 2015

NIAT HAJI

Haji adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Banyak anggapan bahwa Islam kita akan sempurna jika telah melaksanakan ibadah haji. Karena itu cita-cita berjahi adalah cita-cita yang wajar dan seharusnya ada dalam diri setiap muslim. Justru tidak wajar jika ada seorang muslim yang tak berkeinginan menunaikan ibadah haji.

Tapi karena besarnya biaya dan beratnya medan maka Rasulullah SAW mengatakan bahwa hanji hanya wajib bagi yang mampu. Yang tidak mampu tidak diwajibkan bersusah payah menunaikan ibadah ini. Ibadah yang menuntut persiapan maal (harta), ruh (keimanan) dan jasad (fisik, badan).

Dari Umar bin Khottob r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu (HR. Muslim).

Dari segi biaya, tidak ada yang memungkiri tingginya biaya menunaikan ibadah haji. Sekitar USD 2.500 - 3.000 harus disiapkan oleh setiap orang yang hendak berhaji. Jika berangkat suami-istri tinggal dikalikan dua saja. Belum termasuk biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, biaya bimbingan haji, transportasi dalam mengurus tetek bengek, kain ihrom, bekal pakaian, makanan dan sebagainya.

Yang paling besar dan dianggap sebagai parameter ketidakmampuan adalah ongkos naik haji atau biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang sekitar USD 2.500 - 3.000 itu. Atau sekitar 25 - 30 juta rupiah itu. (kurs 1 USD = Rp 10.000).

Maka tak heran jika kita sering mendengar dialog seperti ini:
"Enak ya, bisa naik haji."
"Pengen naik haji?"
"Tentu, dong."
"Kapan berangkat?"
"Yaaa... saya kan cuma buruh. Nanti kali, kalau dapat rejeki nomplok."

Ya, bagi seorang buruh yang sudah berkeluarga dengan kerja full lembur yang hanya mendapatkan 3-4 juta per bulan, pergi haji bagi pungguk merindukan bulan.Maka pergi haji ke tanah suci sering hanya menjadi sekedar niat suci saja.

Demikian juga yang saya alami. Niat dan kemauan sudah ada sejak 15 tahun yang lalu. Tapi rejeki nomplok tak kunjung datang. Bahkan dengan perhitungan saya seakan tak mungkin bisa pergi haji. Untuk nafkah keluarga yang terdiri dari satu istri dan empat anak, gaji jadi pas-pasan terus. Paling-paling tambahannya hanya THR yang habis untuk biaya mudik. Bonus tahunan tak kunjung ada. Ketika pindah kerja, bonus tahunan nilainya cuma sekali gaji. Sementara daftar pengeluaran sudah menunggu untuk direalisasikan. Warisan? Nggak ada. Makanya yang ada hanya pasrah. Menunggu panggilan Nabi Ibrahim. Paling banter minta do'a kepada tetangga yang berangkat haji, agar nama saya dipanggil agar bisa segera menyusul ke sana. [hj].    

Senin, 30 Mei 2011

BAGAIMANA AGAR BERKEMAMPUAN? (2)

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu. 
(HR. Muslim)


Ada dua cara mensikapi hadis di atas. Yang pertama telah ditulis di tulisan sebelumnya. Lalu bagaimana sikap yang kedua? Kalau yang pertama penuh pesimistis, yang ke dua justru optimistis dan menganggap hadis ini sebagai tantangan:

“Ini adalah rukun Islam, saya harus jadi orang mampu. Agar saya bisa berhaji!”

“Rukhsah bagi yang tak mampu itu, biar untuk orang lain saja. Saya harus mampu!”

“Saya harus melengkapi keislaman saya dengan melaksanakan kelima-lima rukun Islam itu, termasuk berhaji!”

Lalu ditargetkan kapan bisa naik haji. Kalau untuk rumah seharga 50 juta berani mencicil  10-15 tahun, kenapa tidak mencoba mencicil ONH? 

Ayo, ambil kalkulator. Masukkan angka 70 juta untuk ongkos haji suami-istri 10 tahun yang akan datang. Bagi dengan 10, maka itu berarti kita harus menabung 7 juta per tahun. Bagi lagi dengan 12. Itu berarti kita harus menyisihkan Rp. 584 ribu per bulan. Jika gaji kita 3 juta per bulan berarti dengan menyisihkan 20% setiap bulan, kita akan berkemampuan berhaji sepuluh tahun ke depan. Yaitu tahun 2021 nanti. Sambil berdoa semoga nilai rupiah tidak terus terdepresiasi terhadap dollar.

Kalau nilai ini dianggap terlalu besar, mari kita bikin urutan prioritas pengeluaran bulanan. Coret yang tidak perlu. Coret apa yang tidak akan membuat kita mati tanpanya. Coret apa yang justru membuat kita sakit jasmani dan rohani.

Apa yang masuk kriteria itu?
Banyak. Misalnya rokok yang merusak jasmani kita. Bioskop yang merusak kantong dan rohani kita. Jalan-jalan ke mall yang menyuburkan sifat konsumerisme dan hedonisme. Kurangi jajan, karena istri telah memasak di rumah. Kurangi jajan yang dilakukan hanya karena hobbi. Misalnya makan bakso atau duren. Jadikan makan karena butuh, bukan karena hobi apalagi nafsu. Kurangi memanjakan anak dengan jajanan tak bergizi dan menyuburkan penyakit. Yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak dan tak dikover asuransi.

Kalau istiqomah dan terus berdoa kepada Allah niscaya Allah akan menguatkan niat kita menuju berkemampuan itu.

Tulisan pada halaman-halaman selanjutnya di blog ini -yang sudah dibukukan- adalah catatan saya tentang keberhasilan saya dan istri menjadi berkemampuan melaksanakan ibadah haji. Tak ada niatan riya’ di dalamnya. Sebaliknya saya menyajikan ini adalah demi membuka wawasan pembaca sekalian, bahwa berhaji itu dari segi finansial ternyata mudah dan murah jika direncanakan dengan baik. Selamat membaca dan teriring doa semoga kita dimudahkan oleh Allah dalam mewujudkan cita-cita berhaji ke tanah suci.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbbaik
Innal hamda wanni’mata
Laka walmulk
Laa syariikalak

BAGAIMANA AGAR BERKEMAMPUAN? (1)


Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)

 Ya, rukun Islam yang kelima adalah melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah ini termasuk ibadah kelas berat, salah satunya adalah biaya, maka Rasululullah menambahkan “…. jika kalian mampu.”

Mencermati hadist di atas, ada dua cara orang Islam menyimpulkannya:

Pertama, “karena saya belum mampu maka saya tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Nanti kalau saya mampu maka saya dikenai kewajiban haji itu. Sekarang belum. Ada ‘rukhsyah’ untuk tidak melaksanakannya karena saya masih belum berkemampuan.”
Jika membacanya demikian, maka akan muncul permakluman-permakluman lainnya terhadap kondisi diri sendiri.

Seperti:
“Saya kan cuma buruh pabrik, mana mungkin bisa melaksanakan haji. Setiap bulan gaji pas-pasan untuk hidup, sekolah anak-anak dan lain-lain kebutuhan rumah tangga.”

Atau,
“Saya masih banyak hutang. Setiap bulan harus bayar angsuran rumah, mobil, motor, hape, panci, karpet, dan lain-lain.”

Atau lagi,
“Rumah saya sudah tua, jadi harus direnovasi, jika tidak mau lapuk oleh waktu.”

Atau pula,
“Kayaknya harus dapat rejeki nomplok nih, baru saya bisa naik haji.”

Atau,
“Pokoknya kalau dapat undian berhadiah mobil saya akan jual untuk ongkos naik haji.”

Ada juga,
“wah, mana mungkin? Saya tidak punya sawah untuk dijual bakal ONH.”

Kalau terus didengarkan makin banyak lagi alasan-alasan yang justru melemahkan diri. Alasan-alasan ini justru menjadikannya orang yang tidak kunjung mampu berhaji. Padahal kalau ditanya mau nggak sih dia haji, pasti jawabannya “Mau dong, siapa yang nggak pengen?”

Pengen adalah cita-cita. Cita-cita adalah dream atau impian. Anak kecil jika ingin mainan bisa termimpi-mimpi untuk mendapatkannya. Sampai tidurnya mengigau menyebut-nyebut nama mainan itu. Ketika bangun tidur, merengek lagi kepada ayah ibunya agar dibelikan mainan itu. Mimpi adalah kunci… demikian sebaris syair lagu Laskar Pelangi.

Kalau kita pengen haji, mestinya juga demikian. Termimpi-mimpi saat tidur, lalu bekerja keras saat terbangun. Demi tercapainya cita-cita itu. Bukan sebaliknya melemahkan diri kedalam ketidakmampuan itu. Jika demikian, maka benarlah bahwa keinginannya untuk berhaji tak bakal terwujud karena dia selalu menenggelamkan dirinya dalam kelompok orang yang tak mampu. Sehingga tidak perlu pergi haji.

Itu adalah cara pertama. Bagaimana dengan cara kedua membaca hadis itu? 
Ikuti tulisan selanjutnya.

HAJI JIKA MAMPU


Senang rasanya mendengar, menyaksikan dan mengantar teman-teman yang berkesempatan pergi haji. Bagi yang sudah pernah pergi menunaikan ibadah haji, pasti terkenang keindahan dan kenikmatan ibadah di tanah suci. Alharamain Makah dan Madinah. Bagi yang belum berkesempatan berhaji, semakin menjadi-jadi keinginannya melaksanakan rukun Islam ke-5 ini.
Kalau ada muslim-muslimah yang tak punya sedikitpun keinginan berhaji, maka perlu diperiksa ada apa dengan keimanan orang ini. Biasanya setelah ditanyakan kepadanya ada 2 sebab utama. Pertama dia apatis dengan kondisi keuangannya. Kedua dia merasa belum cukup suci untuk pergi ke tanah suci. Meskipun uang ada berlimpah-limpah. 
Tak terasa sebentar lagi teman-teman yang terdaftar berangkat haji tahun 2011 ini akan sibuk menjalani kajian manasik haji. Lalu akhir September atau awal Oktober 2011 sudah berangkat ke tanah suci untuk melaksanakn rukun Islam ke-5 ini. Wow, senang sekali menjadi orang yang berkemampuan menunaikan ibadah haji ini. 
Jadi yang belum mampu, sering-seringlah mengantar saudara, teman, tetangga yang akan berhaji. Mintalah didoakan agar diberi kesempatan menziarahi dua tempat suci ini sebelum ajal menjelang. Dan yang terpenting rencanakanlah perjalanan Anda. Niscaya Anda akan diberi kemampuan oleh Allah SWT. Percayalah....