Senin, 30 Mei 2011

BAGAIMANA AGAR BERKEMAMPUAN? (1)


Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)

 Ya, rukun Islam yang kelima adalah melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah ini termasuk ibadah kelas berat, salah satunya adalah biaya, maka Rasululullah menambahkan “…. jika kalian mampu.”

Mencermati hadist di atas, ada dua cara orang Islam menyimpulkannya:

Pertama, “karena saya belum mampu maka saya tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Nanti kalau saya mampu maka saya dikenai kewajiban haji itu. Sekarang belum. Ada ‘rukhsyah’ untuk tidak melaksanakannya karena saya masih belum berkemampuan.”
Jika membacanya demikian, maka akan muncul permakluman-permakluman lainnya terhadap kondisi diri sendiri.

Seperti:
“Saya kan cuma buruh pabrik, mana mungkin bisa melaksanakan haji. Setiap bulan gaji pas-pasan untuk hidup, sekolah anak-anak dan lain-lain kebutuhan rumah tangga.”

Atau,
“Saya masih banyak hutang. Setiap bulan harus bayar angsuran rumah, mobil, motor, hape, panci, karpet, dan lain-lain.”

Atau lagi,
“Rumah saya sudah tua, jadi harus direnovasi, jika tidak mau lapuk oleh waktu.”

Atau pula,
“Kayaknya harus dapat rejeki nomplok nih, baru saya bisa naik haji.”

Atau,
“Pokoknya kalau dapat undian berhadiah mobil saya akan jual untuk ongkos naik haji.”

Ada juga,
“wah, mana mungkin? Saya tidak punya sawah untuk dijual bakal ONH.”

Kalau terus didengarkan makin banyak lagi alasan-alasan yang justru melemahkan diri. Alasan-alasan ini justru menjadikannya orang yang tidak kunjung mampu berhaji. Padahal kalau ditanya mau nggak sih dia haji, pasti jawabannya “Mau dong, siapa yang nggak pengen?”

Pengen adalah cita-cita. Cita-cita adalah dream atau impian. Anak kecil jika ingin mainan bisa termimpi-mimpi untuk mendapatkannya. Sampai tidurnya mengigau menyebut-nyebut nama mainan itu. Ketika bangun tidur, merengek lagi kepada ayah ibunya agar dibelikan mainan itu. Mimpi adalah kunci… demikian sebaris syair lagu Laskar Pelangi.

Kalau kita pengen haji, mestinya juga demikian. Termimpi-mimpi saat tidur, lalu bekerja keras saat terbangun. Demi tercapainya cita-cita itu. Bukan sebaliknya melemahkan diri kedalam ketidakmampuan itu. Jika demikian, maka benarlah bahwa keinginannya untuk berhaji tak bakal terwujud karena dia selalu menenggelamkan dirinya dalam kelompok orang yang tak mampu. Sehingga tidak perlu pergi haji.

Itu adalah cara pertama. Bagaimana dengan cara kedua membaca hadis itu? 
Ikuti tulisan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar